Pengertian Global Warming, Dampak dan Cara Mencegah Global Warming
Pengertian Global Warming – Mungkin sebagian besar dari anda sudah
tidak asing dengan istilah Global Warming. Akhir-akhir ini makin marak
kampanye Stop Global Warming baik di TV maupun poster-poster di jalanan.
Tapi tahukah anda, apa pengertian Global Warming tersebut?
Global Warming atau yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan
pemanasan global ialah suatu proses yang ditandai dengan meningkatnya
suhu rata-rata permukaan bumi, laut maupun atmosfer. Kenapa hal ini bisa
terjadi? Apa saja dampak buruk global warming ini? Bagaimana pula cara
untuk mengendalikan pemanasan global atau global warming tersebut? Simak
pembahasan berikut.
Penyebab Global Warming
Perlu anda
ketahui bahwa suhu rata-rata permukaan di bumi ini meningkat 0.74 ± 0.18
°C dalam waktu 100 tahun terakhir ini. Kenapa ini bisa terjadi? Berikut
adalah beberapa penyebab utama terjadinya Global Warming:
1. Efek Rumah Kaca
Semua sumber energi yang ada di bumi ini berasal dari energi Matahari
yang sebagian besar berupa radiasi gelombang pendek. Ketika energi
tersebut dampai di Bumi, ia akan berubah menjadi panas yang bisa
menghangatkan bumi. Namun tidak semua panas yang sampai di bumi akan
diserap, sebagian lagi akan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Namun
sebagian dari panas yang dipantulkan ini tetap terperangkap di dalam
atmosfer bumi karena menumpuknya gas rumah kaca (Karbon Dioksida,
Metana, Sulfur Dioksida dan uap air). Hal ini terjadi karena gas-gas
tersebut mampu menyerap dan memantulkan energi panas dalam bentuk
radiasi gelombang yang dipancarkan bumi. Akibatnya energi panas tadi
akan terus tersimpan di permukaan bumi. Proses ini terus terjadi dari
waktu ke waktu, dan akibatnya suhu rata-rata permukaan bumi pun terus
meningkat.
2. Efek Umpan Balik
Salah satu penyebab Global
Warming adalah adanya efek umpan balik. Contoh terjadinya efek umpan
balik ini adalah pada proses penguapan air. Meningkatnya suhu rata-rata
permukaan bumi serta lautan akan menyebabkan meningkatnya penguapan air
ke atmosfer. Seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, uap air sendiri
termasuk gas rumah kaca yang memicu terjadinya Global Warming. Ini
mengakibatkan pemanasan akan terus menerus berlangsung dan menambah uap
air di atmosfer hingga kesetimbangan konsentrasi uap air tercapai.
3. Variasi Matahari
Beberapa Ilmuan berpendapat bahwa variasi dari matahari, yang kemudian
diperkuat oleh efek umpan balik dari awan, mampu memberikan kontribusi
dalam pemanasan global saat ini. Aktivitas matahari yang meningkat dapat
menyebabkan meningkatnya suhu stratosfer (salah satu lapisan di
atmosfer). Fenomena variasi matahari serta aktivitas gunung berapi di
berbagai belahan bumi ini diperkirakan telah menyebabkan efek pemanasan
sejak era pra-industri sampai tahun 1950, serta menimbulkan efek
pendinginan sejak th 1950.
Dampak Global Warming
Para
ilmuwan telah menggunakan berbagai teknologi yang canggih untuk
mempelajari global warming. Berdasarkan berbagai analisa, para ilmuwan
telah memperkirakan beberapa dampak global warming yang terjadi di bumi.
Berikut adalah beberapa dampak global warming tersebut:
1. Iklim Tidak Stabil
Ilmuwan memperkirakan, selama proses global warming berlangsung bagian
utara bumi akan memanas lebih cepat dibandingkan daerah lain. Hal ini
menyebabkan banyak gunung es mencair dan daratan di daerah tersebut akan
mengecil. Es yang terapung di perairan utara tersebut pun akan
berkurang. Akibatnya, daerah yang dulunya mengalami hujan salju ringan,
mungkin beberapa waktu yang akan datang tidak akan mengalaminya lagi
akibat global warming.
2. Meningkatnya Permukaan Laut
Ketika suhu atmosfer meningkat, suhu lapisan permukaan laut juga ikut
meningkat. Akibatnya, volume air laut akan meningkat karena efek anomali
air dan tinggi permukaan laut pun semakin meningkat. Selain itu sebagai
akibat dari global warming, telah banyak es di kutub yang mencair
(terutama di sekitar Greenland). Mencairnya es tersebut juga mampu
memperbesar volume air laut di bumi.
Selama abad 20, tinggi
permukaan air laut di seluruh dunia telah naik sekitar 10 – 25 cm.
Ilmuwan juga telah memprediksi bahwa pada abad ke-21 tinggi permukaan
lau akan terus naik sekitar 9 – 88 cm.
3. Peningkatan Suhu Global
Kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa bumi yang lebih hangat mampu
menghasilkan lebih banyak berbagai macam hasil pangan dari sebelumnya,
namun kenyataanya hal tersebut tidak berlaku samadi semua tempat. Bagian
selatan Kanada misalnya, daerah tersebut memang akan mendapatkan
keuntungan dengan curah hujan yang lebih tinggi akibat menghangatnya
bumi karena musim tanam akan menjadi lebih lama. Namun di lain pihak,
berbagai lahan pertanian semi kering di wilayah Afrika mungkin akan
mengalami kerugian yang besar akibat kurangnya air irigasi jika suhu
global terus meningkat.
4. Gangguan Ekologis
Akibat
pemanasan global, binatang di alam liar lebih memilih untuk bermigrasi
atau pindah ke arah kutub atau ke pegunungan mencari tempat yang lebih
dingin. Tumbuhan pun akan merubah arah laju pertumbuhannya guna mencari
habitat baru. Namun migrasi ini akan terganggu oleh pembangunan yang
dilakukan manusia di habitat alami mereka. Hewan yang bermigrasi ke arah
kutub namun kemudian terhalangi oleh kota-kota maupun lahan pertanian
mungkin akan mati.
Pengendalian Global Warming
Berbagai
upaya yang dilakukan maupun sedang dibicarakan saat ini tak ada satupun
yang mampu mencegah Global Warming di masa mendatang. Yang bisa
dilakukan adalah mengatasi berbagai efek yang muncul dan melakukan
berbagai langkah untuk menghindari semakin berubahnya iklim di masa yang
akan datang.
Beberapa contoh upaya yang telah dilakukan untuk
mengatasi efek global warming yang telah muncul misalnya dengan
melindungi pantai dengan tembok penghalang agar air laut tidah masuk ke
pemukiman, merelokasi penduduk di pinggiran pantai ke daerah yang lebih
tinggi, dll.
Untuk memperlambat bertambahnya gas rumah kaca di
atmosfer, ada 2 cara yang bisa dilakukan, yaitu dengan mencegah karbon
dioksida dilepas ke atmosfer bumi dengan cara menyimpannya di tempat
lain, serta dengan mengurangi produksi atau emisi gas rumah kaca.
Mungkin global warming atau pemanasan global memang tidak dapat
dihentikan, namun peran dari anda untuk menjaga lingkungan sangatlah
penting untuk mencegah perubahan iklim yang semakin ektrim. Saya
berharap setelah anda mengerti tentang pengertian global warming dan
berbagai dampak yang ditimbulkannya, anda bisa lebih menghargai dan
menjaga lingkungan sekitar agar tetap terjaga.

Efek
rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824,
merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit terutama planet
atau satelit yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.
Mars,
Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya seperti satelit alami
Saturnus, Titan ternyata juga memiliki efek rumah kaca. Efek rumah kaca
dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda. Efek rumah kaca alami
yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang
terjadi akibat aktivitas manusia. Yang belakang diterima oleh semua;
yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa
perbedaan pendapat.
Matahari
adalah sumber dari segala energi di bumi. Energi cahaya matahari dirubah
menjadi energi yang dapat menghangatkan ketika mencapai permukaan bumi.
Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas matahari dan memantulkan
kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah
gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap
terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca
antara lain uap air, CO2, dan metana yang menjadi perangkap gelombang
radiasi ini.
Gas-gas
ini menyerap dan memantulkannya kembali ke permukaan bumi, sehingga
panas dari gelombang radiasi tersebut tersimpan di permukaan bumi yang
menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata tahunan bumi.
Efek
rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh seluruh penghuni bumi. Karena
tanpa adanya efek rumah kaca, suhu permukaan bumi akan sangat dingin.
Suhu rata-rata planet bumi sudah meningkat sekitar 33°C menjadi 15°C
dari suhu awal yang -18°C. Jika tidak ada efek rumah kaca ini maka
permukaan bumi akan tertutup oleh lapisan es, namun jika berlebihan maka
akan menyebabkan pemanasan global.
#Penyebab
Ada tiga
faktor utama tingginya emisi gas rumah kaca, yakni kerusakan hutan dan
lahan, penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan dan pembuangan
limbah. Ini harus dikendalikan agar emisi gas rumah kaca bisa
diturunkan.
Efek
rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida
(CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini
disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan
bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan
dan laut untuk menyerapnya.
Energi
yang masuk ke Bumi 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di
atmosfer, 25% diserap awan dan 45% diserap permukaan bumi dan 5%
dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah
oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang
dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk
dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca
diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang
dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang
dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta
beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC).
Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah
kaca.
#Gas rumah kaca
Gas rumah
kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah
kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan,
tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia.
Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer
akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah
gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti:
letusan vulkanik; pernapasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen
dan menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organik
(seperti tumbuhan).
Karbondioksida
dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk
digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis memecah karbondioksida
dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya.
Meningkatnya
suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang
sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan
dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap
karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya
gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya
permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya
suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan
permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan
pengaruh yang sangat besar.
Uap air
Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan
bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca.
Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktivitas manusia
tidak secara langsung memengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala
lokal. Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang
disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas antropogenik akan menyebabkan
meningkatnya kandungan uap air di troposfer, dengan kelembapan relatif
yang agak konstan. Meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan
meningkatnya efek rumah kaca; yang mengakibatkan meningkatnya
temperatur; dan kembali semakin meningkatkan jumlah uap air di atmosfer.
Keadaan ini terus berkelanjutan sampai mencapai titik ekuilibrium
(kesetimbangan). Oleh karena itu, uap air berperan sebagai umpan balik
positif terhadap aksi yang dilakukan manusia yang melepaskan gas-gas
rumah kaca seperti CO2
[1]. Perubahan dalam jumlah uap air di udara juga berakibat secara tidak langsung melalui terbentuknya awan.
Karbondioksida
Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke
atmosfer ketika mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan
kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan
menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu
menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk
diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian. Walaupun lautan
dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer,
aktivitas manusia yang melepaskan karbondioksida ke udara jauh lebih
cepat dari kemampuan alam untuk menguranginya. Pada tahun 1750, terdapat
281 molekul karbondioksida pada satu juta molekul udara (281 ppm). Pada
Januari 2007, konsentrasi karbondioksida telah mencapai 383 ppm
(peningkatan 36 persen). Jika prediksi saat ini benar, pada tahun 2100,
karbondioksida akan mencapai konsentrasi 540 hingga 970 ppm. Estimasi
yang lebih tinggi malah memperkirakan bahwa konsentrasinya akan
meningkat tiga kali lipat bila dibandingkan masa sebelum revolusi
industri.
Metana
Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah
kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali
lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama
produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana
juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan
sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu,
terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Sejak permulaan
revolusi industri pada pertengahan 1700-an, jumlah metana di atmosfer
telah meningkat satu setengah kali lipat. Metan berasal dari gas
alamiah, pertambangan batubara, kotoran hewan dan tumbuhan yang telah
membusuk. Hal yang paling dikhawatirkan para ilmuwan adalah tumbuhan
yang membusuk. Beberapa ribu tahun yang lalu, miliaran ton metan
terbentuk dari pembusukan tumbuh-tumbuhan Arktik di Kutub Utara.
Tumbuhan itu membusuk dan membeku di dasar laut. Saat kutub utara mulai
menghangat, metan yang tersimpan di dasar laut itu dapat mempercepat
pemanasan di kawasan itu.
Nitrogen
Oksida Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia
dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan
pertanian. Ntrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar
dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila
dibandingkan masa pre-industri.
Gas
lainnya Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses
manufaktur. Campuran berflourinasi dihasilkan dari peleburan alumunium.
Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama manufaktur berbagai produk,
termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk
di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih
menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai media pendingin yang selain
mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang
melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Selama masa abad ke-20,
gas-gas ini telah terakumulasi di atmosfer, tetapi sejak 1995, untuk
mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam Protokol Montreal tentang
Substansi-substansi yang Menipiskan Lapisan Ozon, konsentrasi gas-gas
ini mulai makin sedikit dilepas ke udara. Para ilmuan telah lama
mengkhawatirkan tentang gas-gas yang dihasilkan dari proses manufaktur
akan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2000, para
ilmuan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara substansial di
atmosfer. Bahan tersebut adalah trifluorometil sulfur pentafluorida.
Konsentrasi
gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih
tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh
lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya.
Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum
teridentifikasi.
Selain karbon dioksida, ada dua gas lagi yang dikhawatirkan mempercepat
pemanasan global lebih buruk lagi. Keduanya adalah metan dan nitrogen
triflorida yang berasal dari tanaman purba dan teknologi layar
flat-panel. Menurut para pengamat lingkungan, kedua gas tersebut
menimbulkan efek rumah kaca seperti karbon dioksida. Bahkan, kedua gas
tersebut memberi efek hampir sama dari yang disebabkan karbondioksida.
Penelitian terbaru menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir efek kedua
gas tersebut semakin meningkat di luar perkiraan. Para pengamat cuaca
juga terkejut dengan peningkatan tersebut.
Selama
ini gas metan masih menjadi kekhawatiran terbesar setelah karbon
dioksida. Pasalnya, gas tersebut dianggap sebagai gas efek rumah kaca
kedua setelah karbon dioksida berdasar besarnya efek pemanasan yang
dihasilkan dan jumlahnya di atmosfer. Gas metan menyumbang sepertiga
dari efek karbondioksida terhadap pemanasan global.
Para
ilmuwan telah berupaya untuk mempelajari bagaimana proses tersebut akan
bermula. Saat ini data yang terkumpul masih berupa data awal, belum ada
kesimpulan. Tetapi para ilmuwan tersebut mengatakan apa yang mereka
lihat di awal ini adalah permulaan pelepasan metan di kutub utara.
Dalam delapan tahun terakhir kadar metan di atmosfer masih stabil yang
diperkirakan setiap 40 menit oleh monitor pengawas dekat tebing di tepi
laut. Tetapi pada 2006 hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan.
Jumlah gas metan di udara melonjak dari sekitar 28 juta ton pada Juni
2006 hingga Oktober 2007. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 5,6 miliar
ton metan di udara. Jika hal ini terus terjadi, maka akan buruk efeknya.
Saat kadar metan terus meningkat, tentunya akan mempercepat perubahan
iklim. Di lain pihak, kadar nitrogen triflorida di udara diperkirakan
meningkat empat kali lipat beberapa tahun terakhir dan 30 kali lipat
sejak 1978. Namun, peningkatan tersebut hanya menyumbang 0,04 persen
dari total efek pemanasan global yang disebabkan oleh karbondioksida.
Gas ini biasanya digunakan sebagai semacam pembersih pada industri
manufaktur televisi dan monitor komputer serta panel.
Nitrogen
triflorida yang dihiting dengan skala bagian per triliun di udara selama
ini memang dianggap ancaman tak berarti. Menurut profesor geofisika Ray
Weiss di Lembaga Oseanografi, upaya awal untuk mengetahui jumlah gas
tersebut di udara memang diremehkan mengingat jumlahnya yang tak terlalu
besar.
Tetapi
gas tersebut justru dikategorikan sebagai salah satu gas yang lebih
berbahaya karena ratusan kali lebih kuat menyimpan panas daripada
karbondioksida. Sedangkan metan hanya 20 kali lebih berbahaya dari
karbondioksida per basis molekul. Karbondioksida masih menjadi gas yang
paling berbahaya karena kadarnya yang sangat tinggi dan pertumbuhannya
yang cepat.
Menurut
penelitian sebuah survei di musim panas, menemukan kadar metan di Laut
Siberia timur meningkat dari 10.000 kali lebih tinggi dari kadar
normalnya. Peningkatan dua gas tersebut adalah fenomena baru.
#Dampak
Menurut
perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata
bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti
sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5
°C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di
atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari
permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu
permukaan bumi menjadi meningkat.
Dunia
telah kehilangan hampir 20 persen terumbu karangnya akibat emisi karbon
dioksida. Laporan yang dirilis Global Coral Reef Monitoring Network ini
merupakan upaya memberi tekanan atas peserta konferensi PBB mengenai
iklim agar membuat kemajuan dalam memerangi kenaikan suhu global. Jika
kecenderungan emisi karbon dioksida saat ini terus berlangsung, banyak
terumbu karang mungkin akan hilang dalam waktu 20 sampai 40 tahun
mendatang, dan ini akan memiliki konsekuensi bahaya bagi sebanyak 500
juta orang yang bergantung atas terumbu karang untuk memperoleh nafkah
mereka. Jika tak ada perubahan, kita akan menyaksikan berlipatnya karbon
dioksida di atmosfer dalam waktu kurang dari 50 tahun.
Karena karbon ini diserap, samudra akan menjadi lebih asam, yang secara
serius merusak sangat banyak biota laut dari terumbu karang hingga
kumpulan plankton dan dari udang besar hingga rumput laut. Saat ini,
perubahan iklim dipandang sebagai ancaman terbesar bagi terumbu karang.
Ancaman utama iklim, seperti naiknya temperatur permukaan air laut dan
tingkatan keasaman air laut, bertambah besar oleh ancaman lain termasuk
pengkapan ikan secara berlebihan, polusi dan spesies pendatang.
#Pencegahan
Penanaman
satu miliar pohon per tahun bisa menurunkan emisi gas rumah kaca,
sehingga target 26 persen pada 2020 diharapkan bisa tercapai. Penurunan
emisi gas rumah kaca (GRK) sekitar 26 persen pada 2020 mendatang, antara
lain melakukan upaya pengendalian kerusakan hutan, penggunaan energi
dan transportasi, serta pengolahan limbah. Penurunan gas rumah kaca di
Indonesia bisa diturunkan hingga 41 persen, bila mendapatkan dukungan
dari luar negeri. Kalau ada dukungan dari luar negeri, maka penurunan
emisi bisa bertambah 15 persen, sehingga bisa 41 persen penurunannya.
Penting dilakukan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan,
pengelolaan sistem jaringan dan tata air, rehabilitasi hutan dan lahan,
pemberantasan pembalakan liar, pencegahan deforestasi dan pemberdayaan
masyarakat.
Penggunaan
energi ramah lingkungan dan transportasi yang efisien juga bisa
membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Kawasan Konservasi Mangrove
ini sangat baik untuk membantu penurunan emisi gas rumah kaca, selain
merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan
kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.